BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Merokok adalah salah satu aktifitas merugikan
kesehatan yang “secara umum” diterima oleh sebagian besar angota masyarakat.
Aktiftas merokok biasanya diasosiasikan dengan kegiatan untuk memenuhi
kebutuhan kesenangan seseorang, meskipun sebagian perokok menyadari adanya
kemungkinan munculnya penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh aktifitas
tersebut (Sitepoe, 2000). Mu’tadin (2002), menyatakan bahwa kerugian yang
ditimbulkan rokok terhadap kesehatan sangat besar disebabkan dalam asap rokok
terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah
nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik
Waktu seseorang pertama kali memulai aktiftas
merokok sangat bervariasi antara satu individu yang satu dengan individu yang
lainnya. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perokok
memulai aktiftas merokok pertama kali pada usia 13-15 tahun dan 50% diantara
mereka akan menjadi pecandu rokok (Martin, 2002). Laventhal & Clearly dalam
Mc Gee (2005) juga menyatakan bahwa perilaku merokok di kalangan remaja ini
akan cenderung mengingkat dalam hal intensitas dan frekuensinya seiring dengan
bertambahnya usia usia.
Indonesia menduduki peringkat
ke-5 di dunia sebagai negara yang penduduknya banyak yang merokok dengan
pertumbuhan tingkat konsumsi rokok yang paling cepat (Djunaedi, 2002). Sirait
(2002) menyatakan bahwa hasil penelitian terhadap penduduk usia 10 tahun ke
atas yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi
perokok adalah 27,7% dengan jumlah perokok laki-laki sebanyak 54,5%, perokok
perempuan sebanyak 1,2% dan mantan perokok sebanyak 2,5%. Sementara itu,
hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim
peneliti Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 2002 menunjukkan bahwa 60%
perokok aktif di Indonesia adalah remaja muda dan anak sekolah (Wullur, 2008).
Meskipun belum terdapat data empiris tentang jumlah
remaja di Kabupaten Blora, akan tetapi anekdotal
evidence menunjukkan bahwa jumlah remaja perokok remaja di Kabupaten Blora
cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pernyataan ini dadasarkan bahwa dewasa
ini sering terlihat banyaknya remaja yang masih mengenakan pakaian seragam
tampak merokok di tempat-tempat umum.
Munculnya kebiasaan merokok diantara remaja tersebut
muncul biasanya terjadi karena masa remaja, yang biasanya diidentikkan dengan masa
sekolah lanjutan atas (SMA), adalah masa yang sulit bagi individu karena pada
masa ini terjadi tranisisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Nadeak, 1991).
Di dalam masa peralihan ini seseorang cenderung untuk mulai menyampaikan
kebebasan dan hak untuk mengemukakan pendapatnya sendiri, mengalami perubahan
fisik yang luar biasa, menjadi terlalu percaya diri yang disertai dengan
peningkatan emosi yang mengakibatkan sukar menerima nasihat orang tua atau guru
dan yang terpenting adalah adanya rasa
kepemilikan terhadap kelompok sosial yang sangat tinggi sehingga pengaruh
kelompok sosial tersebut terkadang cenderung mendominasi perilaku
kesehariannya.
Salah satu pengaruh kelompok sosial yang dominan
diantara remaja di Indonesia adalah
munculnya praktik merokok di antara mereka. Hal ini tercermin dengan
sering terlihatnya sekelompok remaja yang masih mengenakan seragam sekolah melakukan tindakan merokok di tempat umum,
dan bahkan terkadang mereka mengisap rokok di pojok-pojok tersembunyi di
lingkungan sekolah SMA. Kondisi ini sesuai dengan sejumlah penelitian yang
menyatakan bahwa perilaku merokok sering dimulai pada usia antara 11 sampai 15
tahun (Smet, 1994).
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa miskinnya
pengetahuan atau tidak adanya keyakinan terhadap akibat-akibat merokok dapat
menyulitkan individu untuk membangun suatu sikap atau akan memiliki sikap yang
cenderung lemah terhadap rokok (Crhistanto, 2004). Selanjutnya, Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa
pengetahuan (knowledge) memegang
pengaruh yang besar di dalam perilaku seseorang dan apabila pernyataan ini
dikaitkan dengan perilaku merokok, maka pengetahuan seseorang tentang rokok
akan menentukan seseorang untuk menjadi perokok atau tidak. Akan tetapi, pada
pada kenyataannya pengaruh iklan tentang rokok sering menimbulkan pengetahuan
yang salah tentang rokok. Pembentukan pengetahuan tentang rokok dapat terbentuk
dari adanya penginderaan terhadap iklan-iklan rokok yang banyak tertampang di
semua tempat mulai dari tempat umum yang bebentuk baliho sampai ke dalam rumah
melalui iklan yang ditayangkan di televisi yang biasanya cenderung membentuk
pengetahuan yang salah tentang rokok karena jargon iklan rokok sering dirancang
sesuai dengan karakteristik remaja yang menginginkan kebebasan, independensi,
dan pemberontakan pada norma-norma (Wullur, 2008). Pengetahuan yang salah
tentang rokok ini selanjutnya akan mendorong terbentuknya sikap yang salah
tentang rokok dan pada akhirnya terjadi proses aplikasi dimana seseorang akan
menjadi perokok.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Pattinasarany (2004) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap merokok dengan perilaku
merokok remaja. Jika dilihat dari perspektif budaya, terdapat adanya budaya
lokal yang dapat menimbulkan sikap yang salah tentang rokok. Sebagai contoh.
Pada budaya Jawa didapatkan bahwa pada saat tarnsisi ke usia dewasa , biasanya
pada saat anak dikhitan, dinyatakan dengan orang tua memberikan rokok pada
anaknya.
Dalam upaya menganalisis faktor-faktor yang
menyebabkan perilaku merokok di antara remaja di Kabupaten Blora, peneliti
bermaksud melakukan penelitian di Sekolah Menengah Atas (SMA) I Blora agar
dapat dilakukan tindakan nyata terhadap
faktor-faktor tersebut guna menurunkan kebiasaan merokok di kalangan remaja di
Kabupaten Blora.
SMA I Blora dipilih sebagai tempat penelitian
dengan alasan terdapat banyak siswa yang melakukan aktifitas merokok
(Anonim:wawancara dengan salah satu siswa SMA I Blora, 2009), SMA I Blora
mempunyai banyak fasilitas yang memungkinkan para siswa mendapatkan sumber
informasi yang cukup mengenai berbagai bidang ilmu khususnya tentang kesehatan
baik melalui buku, majalah, surat kabar, internet, maupun media lainnya dan SMA
I Blora adalah SMA favorit yang menjadi barometer SMA lain di Kabupaten Blora.
B.
Perumusan Masalah
Maka berdasarkan latar
belakang masalah diatas dapat dirumuskan : “Faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi perilaku merokok diantara remaja SMA Negeri I Blora?”
C.
Tujuan penelitian
1
Tujuan
Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
merokok diantara remaja SMA Negeri I Blora.
2. Tujuan Khusus
a. Mendiskripsikan karakteristik yang meliputi : umur, dan pengaruh iklan rokok.
b. Mengetahui praktik
merokok diantara remaja SMA I Blora.
c. Mengetahui
tingkat pengetahuan tentang rokok remaja
di SMA I Blora.
d. Mengetahui sikap remaja
remaja di SMA I Blora tentang
rokok.
e. Mengetahui peranan anggota keluarga dalam perilaku merokok
diantara remaja SMA I Blora.
f. Mengetahui peranan teman dalam perilaku merokok diantara
remaja SMA I Blora
g. Mengetahui kertersediaan informasi tentang bahaya
merokok diantara remaja SMA I Blora
h. Mengetahui
hubungan antara karakteristik yang meliputi : umur dan iklan rokok dengan praktik
merokok pada remaja SMA I Blora.
i. Mengetahui
hubungan antara pengetahuan dengan praktik merokok pada remaja SMA I Blora.
j. Mengetahui
hubungan antara sikap terhadap rokok dengan praktik merokok pada remaja SMA I Blora.
k. Mengetahui
hubungan antara pengaruh anggota
keluarga dengan praktik merokok pada
remaja SMA I Blora
l. Mengetahui
hubungan antara pengaruh teman dengan
praktik merokok pada remaja SMA I Blora
m. Menganalisis
faktor yang paling dominan pengaruhnya
terhadap praktik merokok pada remaja SMA I Blora.
D. Manfaat Penelitian
a.
Ilmu
Keperawatan
Sebagai bahan masukan
dan pengembangan bagi perawat untuk menjalankan fungsinya sebagai advocator
khususnya pada bidang pencegahan munculnya penyakit yang dapat ditimbulkan oleh
rokok.
b.
Bagi
Poltekkes Depkes Semarang
Sebagai sarana pelaksanaan
fungsi perguruan tinggi di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.
c.
Bagi
Masyarakat
Meningkatkan kesadaran masyarakat di dalam melakukan tindakan pencegahan
atau pengontrolan kebiasaan merokok.
d.
Bagi
Peneliti
Menambah pengetahuan, memperluas wawasan dan pengalaman penelitian dalam
bidang penelitian.
E. Ruang Lingup Penelitian
Penelitian ini dilakukan
di SMA Negeri I Blora, Kabupaten Blora
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam tinjauan pustaka ini, peneliti akan menjelaskan
tentang landasan teori, kerangka konsep dan hipotesis yang muncul dalam
penelitian ini.
A. Landasan Teori
Dalam landasan teori ini,
peneliti akan menjelaskan tentang pengertian remaja, rokok, pengetahuan, sikap
dan perilaku.
1. Remaja
a.Batasan Remaja
Sarwono
(1991) menyatakan bahwa remaja adalah suatu masa di mana individu
berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
Monks, Knoers, &
Hadinoto 2001 (2001), remaja
adalah individu yang berumur antara 12-21 tahun, dengan pembagian usia 12-15
tahun sebagai masa remaja awal, usia 15-18 tahun sebagai masa remaja
pertengahan, 18-21 tahun sebagai masa remaja akhir.
b. Perubahan pada
Masa Remaja
Nelson (2000) menyatakan bahwa pada
masa remaja terjadi perubahan secara fisik, psikologis, maupun sosial sebagai
berikut:
1) Perubahan
fisiologis
Perubahan fisik yang dialami anak perempuan adalah
adanya pembesaran payudara dan akibat mulai berproduksinya FSH (Folicle
Stimulating Hormone) dan estrogen maka terjadi pembesaran uterus dan
klitoris, penebalan endometrium dan mukosa vagina, serta labia mayora menjadi
lebih vaskular dan sensitif. Pada remaja awal sudah mulai terjadi menarche pada
anak perempuan
Sedangkan pada anak laki-laki, terjadi pembesara
testes dan mulai terjadi mimpi basah. Dibawah pengaruh hormon luteinisasi dan
testosterone, tubulus seminiferus, epididimis, vesika seminalis, dan prostat
membesar. Secara umum, anak perempuan lebih cepat dewasa terjadi bila dibandingkan
dengan anak laki-laki.
2) Perubahan
psikologis dan sosial
Ketertarikan remaja pada seks meningkat pada masa
pubertas awal. Secara kognitif, remaja mulai mampu mempertimbangkan berbagai
sudut pandang dan sudah memiliki pemikiran operasional formal yaitu, kemampuan
mengatasi berbagai kemungkinan sebagai suatu kesatuan yang nyata (Nelson,
2000).
Percepatan perkembangan pada remaja yang berhubungan
dengan pemasakan seksualitas juga mengakibatkan perubahan dalam perkembangan
sosialnya (Monks dkk., 2001). Dalam usaha mencapai identitas dirinya, seorang
remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai mempunyai
pendapat-pendapat sendiri, cita-cita, serta nilai-nilai yang berbeda dengan
orang tuanya. Menurutnya orang tua tidak lagi dijadikan pegangan, padahal untuk
berdiri sendiri ia belum cukup kuat. Hal ini menyebabkan remaja mudah
terjerumus ke dalam perkumpulan remaja yang anggota-anggotanya adalah
teman-teman sebaya yang mempunyai persoalan yang sama, dan dalam perkumpulan
itu mereka bisa saling memberi dan mendapat dukungan mental (Purwanto, 1999).
Menurut Keniston dan Beacke cit Monks dkk. (2000), sering timbul
sifat-sifat khusus bahkan kebudayaan sendiri pada kelompok remaja.
c. Perilaku
Berisiko pada Remaja
Purwanto (1999), mengemukakan bahwa masa transisi
antara masa kanak-kanak dan masa dewasa seringkali menghadapkan individu yang
bersangkutan kepada situasi yang membingungkan. Di satu pihak ia masih
kanak-kanak, di pihak lain ia dituntut bertingkah laku seperti orang dewasa.
Situasi-situasi yang menimbulkan konflik seperti ini menyebabkan
perilaku-perilaku yang aneh, canggung, dan jika tidak terkontrol bisa menjadi
kenakalan.
Perilaku-perilaku mengandung risiko sering dijumpai pada
remaja. Diantaranya adalah penggunaan alkohol, tembakau dan zat lainnya, serta
tindakan-tindakan menentang bahaya seperti kebut-kebutan, selancar udara,
layang gantung, dan lain-lain. Alasan-alasan untuk malakukan perilaku-perilaku
berisiko bermacam-macam dan berhubungan dengan dinamika fobia-balik (counterphobic
dynamics), rasa takut dianggap tidak cakap, untuk menegaskan identitas
maskulin, dan dinamika kelompok teman sebaya (Kaplan & Sadock, 2001).
2. Rokok dan Merokok
a. Rokok
Berdasarkan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81 Tahun 1999, rokok adalah hasil
olahan tembakau terbungkus, termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan
dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica, dan spesies lainnya
atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau bahan tambahan.
Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia. Sekali
satu batang rokok dibakar maka ia akan mengeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia
seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hydrogen sianida,
ammonia, acrolein, acetilen, benzaldehyde, urethane, benzene,
methanol, coumarine, etilkatehol-4, ortokresol, perilen, dan
lain-lain (Aditama, 1992).
Nikotin, tar, dan karbonmonoksida merupakan komponen
penting yang terkandung dalam sebatang rokok. Nikotin bersifat toksis terhadap
jaringan syaraf, juga menyebabkan tekanan darah sistolik dan diastolik
mengalami peningkatan, denyut jantung bertambah, aliran darah pada pembuluh
darah koroner bertambah dan vasokontriksi pada pembuluh darah perifer (Sitepoe,
2000). Menurut Ichsanti (1994) adanya alkaloid pada nikotin akan menimbulkan
rasa ketagihan pada perokok, tapi nikotin baru dapat menimbulkan rasa ketagihan
pada kadar 5 mgr (4-6 mgr) perhari dari rokok yang dihisap. Tar sebagai getah
tembakau merupakan zat berwarna coklat berisi berbagai jenis hidrokarbon
aromatik polisiklik, amin aromatik dan N-nitrosamin. Sumber tar adalah
tembakau, cengkeh, pembalut rokok, dan bahan organik lain yang habis dibakar.
Karbon monoksida (CO) menimbulkan desaturasi hemoglobin,
menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk
miokard. CO menggantikan posisi oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan
oksigen, dan mempercepat aterosklerosis. Dengan demikian, CO menurunkan
kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah
penggumpalan darah (Tandra, 2003).
Komponen kimia yang terdapat dalam
sebatang rokok.
Kandungan bahan-bahan kimia yang ada
di dalam rokok
b. Tipe-tipe
Perokok
Menurut Mu’tadin (2002), yang disebut perokok sangat
berat adalah mereka yang mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang per hari dan
selang merokok dengan selang waktu 5 menit setelah bangun pagi. Perokok berat
menghabiskan 21-30 batang rokok per hari dan selang waktu merokoknya 6-30 menit
sejak bangun pagi. Perokok sedang merokok 11-21 batang tiap hari dengan selang
waktu 31-60 menit setelah bangun pagi, sedangkan perokok ringan menghabiskan
sekitar 10 batang rokok dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.
Klasifikasi tipe perokok yang lain dikemukakan oleh
Silvans Tomkins cit Mu’tadin (2002) yang membagi perokok berdasarkan Management
of affect theory, yaitu:
1).
Perokok yang dipengaruhi perasaan positif
Dengan
merokok, seseorang akan mendapatkan penambahan rasa yang positif. Tipe ini
dikelempokkan lagi menjadi tiga subtype:
a).
Pleasure relaxation.
Bagi
perokok jenis ini, merokok bertujuan untuk menambah kenikmatan yang sudah
diperoleh, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
b).
Stimulation to pick them up.
Orang-orang
yang termasuk ssdalam tipe ini merokok sekedar untuk menyenangkan perasaan
saja.
c).
Pleasure of handling cigarette.
Yang
termasuk tipe ini adalah mereka yang memperoleh kenikmatan merokok dengan
memegang rokok, khususnya pada perokok pipa. Selain itu, yang tergolong dalam
tipe ini adalah mereka yang senang berlama-lama memainkan rokok dengan
jari-jarinya sebelum dinyalakan.
2).
Perokok yang dipengaruhi perasaan negatif
Pada
tipe ini, rokok digunakan untuk mengurangi perasaan negatif seperti marah dan
cemas.
3). Perokok yang adiktif
Perokok
tipe ini sudah adiksi nikotin, sehingga akan terus menambah dosis rokok setiap
saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.
4). Perokok yang mengkonsumsi rokok karena kebiasaan
Perokok
tipe ini menggunakan rokok karena benar-benar sudah menjadi kebiasaan rutin.
Merokok sudah menjadi perilaku yang bersifat otomatis bahkan tanpa difikirkan
dan tanpa disadari.
c. Proses
Merokok
Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian diisap
asapnya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur pada
sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 900 derajat celcius untuk ujung rokok
yang dibakar dan 30 derajat celcius untuk ujung rokok yang terselip di antara
bibir perokok (Harrison, 2000).
Setelah rokok dibakar, sebanyak 25% nikotin masuk
kedalam sirkulasi darah kemudian sampai ke otak dalam waktu 15 detik. Nikotin
diterima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur
imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan
kenikmatan, memacu sistem dopominergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih
tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar.
Sementara pada jalur adrenergik, nikotin akan mengaktifkan sistem adrenergik
pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan serotonin. Meningkatnya
serotonin menimbulkan rangsangan rasa tenang, sekaligus keinginan mencari rokok
lagi (Waney, 2002).
Asap rokok terdiri atas fase partikulat (unsur padat)
dan fase gas. Fase partikulat tersusun atas tar, hidrokarbon aromatik
polinukleus, nikotin, fenol, kresol, B-naftilamin, N-nitrosonornikotin,
benzopiren, trace metal, indol, karbazol, dan katekol. Sedangkan fase
gas terdiri atas karbonmonoksida, asam hidrosianida, akrolein, ammonia,
formaldehid, nitrogen oksida, nitrosamine, hidrazin, dan vinil klorida.
d. Faktor
yang Mempengaruhi Seseorang Merokok
1). Pengaruh orang tua
Remaja berasal dari keluarga yang tidak bahagia lebih
mudah untuk menjadi perokok dibandingkan dengan remaja yang berasal dari
lingkungan keluarga yang bahagia. Perilaku merokok remaja lebih banyak
ditemukan pada remaja yang tinggal dengan orang tua tunggal. Remaja juga
cenderung akan merokok jika orang tua mereka merokok (Mu’tadin, 2002).
2). Pengaruh teman
Remaja yang teman-temannya merokok, maka kemungkinan ia akan menjadi
perokok juga. Bahkan menurut Jacken (2002), merokok dalam pergaulan remaja
sering dimanfaatkan sebagai syarat mutlak menjadi anggota genk
3). Faktor kepribadian
Remaja mencoba untuk merokok dengan alasan ingin tahu, ingin melepaskan
diri dari rasa sakit fisik dan jiwa (Mu’tadin, 2002). Dari berbagai penelitian,
remaja merokok dengan alasan coba-coba, ingin rmembebaskan diri dari stress,
kebosanan, kegelisahan, agar kelihatan jantan, gengsi, mencari inspirasi, dan
lain-lain (Santosa, 1993).
4). Pengaruh iklan
Remaja sering terpancing untuk
merokok setelah melihat iklan di media cetak atau elektronik yang menggambarkan
bahwa merokok adalah lambang kejantanan atau glamour (Mu’tadin, 2002).
e.
Bahaya merokok
bagi kesehatan
Efek merokok yang langsung dirasakan
oleh perokok adalah meningkatnya denyut jantung, berbaunya nafas, berbaunya
pakaian, menurunnya tingkat kesehatan dan kinerja, serta berkurangnya daya
kecap dan penciuman. Sedangkan efek yang bersifat jangka panjang dari merokok
adalah timbulnya noda pada gigi, jerawat dan masalah-masalah kulit lainnya,
serta penyakit-penyakit yang bisa muncul diberbagai sistem tubuh.
Di bawah ini adalah beberapa penyakit
yang dapat disebabkan atau diperburuk oleh rokok:
1).
Penyakit saluran pernafasan
Sekitar
56-80% dari semua penyakit pernafasan kronik disebabkan oleh rokok, termasuk
bronchitis kronis dan emfisema. Penggunaan rokok di Indonesia diperkirakan menyebabkan
4,4% kematian karena penyakit paru kronik, pneumonia, bronchitis, dan emfisema
(Tim Penanggulangan Masalah Tembakau, 2004).
2).
Penyakit kardiovaskuler
Rokok
merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner. Merokok dapat menyebabkan
aterosklerosis koronaria dan iskemia akut, trombosi dan aritmia jantung (Harrison, 2000). Rokok bertanggung jawab terhadap
terjadinya 22% penyakit jantung dan pembuluh darah (WHO, 2002).
3).
Kanker
Merokok
menyebabkan terjadinya 90% kanker paru pada laki-laki dan 70% pada wanita
dengan tingkat kematian lebih dari 85% (IARC cit Tim Penanggulangan
Masalah Tembakau, 2004). Merokok juga terbukti menyebabkab kanker mulut dan
tenggorokan, kanker ginjal dan kandung kemih, kanker pancreas, kanker perut,
kanker hati, kanker leher rahim, leukemia, kanker payudara (Jacken, 2002).
4). Gangguan kehamilan dan janin
Merokok
dapat menghambat proses pembuahan, dan merokok selama kehamilan dapat
menyebabkan ibu hamil berisiko mengalami proses kahamilan bermasalah, termasuk
bayi berat lahir rendah, abortus spontan, lahir mati, dan lahir cepat (Harrison, 2000).
5). Gangguan seksual
Wanita perokok dapat mengalami penurunan
atau penundaan kemampuan kehamilan. Sedangkan pada
pria, merokok dapat meningkatkan risiko impotensi sebesar 50% (Tim
Penanggulangan Masalah Tembakau, 2004).
6). Gangguan saluran gastrointestinal
Pada perokok sering dijumpai penyakit tukak (ulkus), lambung serta duodenal
dan dapat mengakibatkan kematian (Harrison,2000).
7). Penurunan daya ingat
Dari hasil analisis otak yang dilakukan oleh peneliti dari Neuropsychiatric
Institite at the University of California, ditemukan bahwa jumlah tingkat
dan kepadatan sel yang digunakan untuk berfikir jauh lebih rendah pada orang
yang merokok dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Keadaan ini
mempunyai implikasi penurunan daya ingat (Utama, 2005).
8). Depresi
Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok dapat
meningkatkan gangguan depresif bagi individu yang menderitanya (Harrison,
2000).
Rokok dapat menurunkan tingkat harapan hidup seseorang.
Umur orang yang merokok 1-2 bungkus sehari akan berkurang 8,3 tahun dari bukan perokok dengan umur yang
sama (Djunaedi, 2002). Di samping itu, konsumsi rokok mengakibatkan satu
kematian setiap sepuluh detik (WHO, 2002).
f.
Penanggulangan
Perilaku Merokok pada Remaja
Perilaku merokok, terutama pada remaja, perlu diwaspadai
dan dikendalikan karena merokok dapat mengantarkan perokok kepada perilaku
berbahaya yang lebih lanjut, yaitu penggunaan narkoba (Adiningsih, 2001). Hal
ini disebabkan orang-orang yang merokok mempunyai risiko yang lebih besar untuk
mencoba zat adiktif lain yang lebih keras.
Sendi utama penanggulangan masalah merokok adalah
penyuluhan terus menerus dan berkesinambungan tentang bahaya rokok, dan usaha
mengubah perilaku masyarakat. Berdasarkan pengalaman beberapa negara, program
ini berhasil jika ditangani oleh suatu badan nasional yang mengorganisasikan
dan mengkoordinasikan semua kegiatan penanggulangan masalah rokok (Djunaedi,
2002). Menurut Aditama (1996), program ini perlu melibatkan berbagai pihak
terkait, mulai dari kalangan kesehatan, alim ulama, remaja, teknokrat, politisi,
ahli ekonomi, ahli lingkungan hidup, dan lain-lain.
Pada tahun 1980, Richard Evans berhasil menjalankan suatu
program kampanye antirokok pada remaja. Kampanye antirokok ini dilakukan
melalui poster, film, dan diskusi tentang berbagai aspek yang berhubungan
dengan merokok. Lahan yang digunakan untuk kampaye ini adalah sekolah, radio,
dan televisi.
g. Pengetahuan
tentang Bahaya Merokok
Berbagai informasi mengenai rokok dan bahaya mengenai
kesehatan dapat diperoleh melalui guru, orang tua, tenaga kesehatan, buku-buku
kesehatan, media elektronik, media cetak, teman, dan lain-lain.
Dengan adanya berbagai penyuluhan, ceramah, pertemuan
ilmiah, wawancara di TV/radio dan lain-lain, maka masyarakat diharapkan
mengetahui akibat merokok atau bahaya merokok, namun demikian masih banyak yang
mempunyai kebiasaan merokok karena berbagai alas an, antara lain untuk sarana
pergaulan, untuk menghilangkan ketengangan, karena meniru idolanya juga merokok
dan lain-lain (Santoso, 1993).
Aspek-aspek pengetahuan tentang merokok meliputi
keuntungan dan kerugian merokok, zat-zat beracun yang terkandung dalam rokok,
penyakit-penyakit yang berhubungan dengan penggunaan rokok, akibat negatif asap
rokok, akibat merokok dalam masyarakat, alasan merokok, dampak negatif merokok
di sekolah dan di rumah, perokok pasif, dan bahaya orang tua merokok.
h. Sikap terhadap
Merokok
Sikap terhadap merokok adalah bagaimana pandangan
individu tersebut terhadap merokok akan
memberikan gambaran bagaimana kecenderungan individu dalam memberikan suatu respon yang berhubungan
dengan aktivitas merokok. Dengan demikian bila remaja mempunyai respon positif
atau negatif, suka atau tidak suka dapat mencerminkan pendapat atau keyakinan
terhadap aktivitas merokok.
Sikap positif seseorang terhadap kesehatan kemungkinan
tidak otomatis berdampak pada perilaku seseorang menjadi positif, tetapi sikap
yang negatif terhadap kesehatan hampir pasti dapat berdampak negatif pada
perilakunya (Niven, 2002).
Sikap negatif mengenai merokok masih dapat berubah
bila individu mendapatkan masukan-masukan, pengalaman, atau perilaku lingkungan
positif yang tidak mendukung perilaku merokok.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar