Kamis, 24 Januari 2013

artikel kesehatan tugas

BAB I

PENDAHULUAN



 A.   Latar Belakang Masalah
Merokok adalah salah satu aktifitas merugikan kesehatan yang “secara umum” diterima oleh sebagian besar angota masyarakat. Aktiftas merokok biasanya diasosiasikan dengan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan kesenangan seseorang, meskipun sebagian perokok menyadari adanya kemungkinan munculnya penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh aktifitas tersebut (Sitepoe, 2000). Mu’tadin (2002), menyatakan bahwa kerugian yang ditimbulkan rokok terhadap kesehatan sangat besar disebabkan dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik

Waktu seseorang pertama kali memulai aktiftas merokok sangat bervariasi antara satu individu yang satu dengan individu yang lainnya. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perokok memulai aktiftas merokok pertama kali pada usia 13-15 tahun dan 50% diantara mereka akan menjadi pecandu rokok (Martin, 2002). Laventhal & Clearly dalam Mc Gee (2005) juga menyatakan bahwa perilaku merokok di kalangan remaja ini akan cenderung mengingkat dalam hal intensitas dan frekuensinya seiring dengan bertambahnya usia usia. 
Indonesia menduduki peringkat ke-5 di dunia sebagai negara yang penduduknya banyak yang merokok dengan pertumbuhan tingkat konsumsi rokok yang paling cepat (Djunaedi, 2002). Sirait (2002) menyatakan bahwa hasil penelitian terhadap penduduk usia 10 tahun ke atas yang tersebar di 27 propinsi di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi perokok adalah 27,7% dengan jumlah perokok laki-laki sebanyak 54,5%, perokok perempuan sebanyak 1,2% dan mantan perokok sebanyak 2,5%. Sementara itu, hasil  penelitian yang dilakukan oleh Tim peneliti Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 2002 menunjukkan bahwa 60% perokok aktif di Indonesia adalah remaja muda dan anak sekolah (Wullur, 2008).
Meskipun belum terdapat data empiris tentang jumlah remaja di Kabupaten Blora, akan tetapi anekdotal evidence menunjukkan bahwa jumlah remaja perokok remaja di Kabupaten Blora cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pernyataan ini dadasarkan bahwa dewasa ini sering terlihat banyaknya remaja yang masih mengenakan pakaian seragam tampak merokok di tempat-tempat umum.
Munculnya kebiasaan merokok diantara remaja tersebut muncul biasanya terjadi karena masa remaja, yang biasanya diidentikkan dengan masa sekolah lanjutan atas (SMA), adalah masa yang sulit bagi individu karena pada masa ini terjadi tranisisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Nadeak, 1991). Di dalam masa peralihan ini seseorang cenderung untuk mulai menyampaikan kebebasan dan hak untuk mengemukakan pendapatnya sendiri, mengalami perubahan fisik yang luar biasa, menjadi terlalu percaya diri yang disertai dengan peningkatan emosi yang mengakibatkan sukar menerima nasihat orang tua atau guru dan yang terpenting adalah  adanya rasa kepemilikan terhadap kelompok sosial yang sangat tinggi sehingga pengaruh kelompok sosial tersebut terkadang cenderung mendominasi perilaku kesehariannya.
Salah satu pengaruh kelompok sosial yang dominan diantara remaja di Indonesia adalah  munculnya praktik merokok di antara mereka. Hal ini tercermin dengan sering terlihatnya sekelompok remaja yang masih mengenakan seragam sekolah  melakukan tindakan merokok di tempat umum, dan bahkan terkadang mereka mengisap rokok di pojok-pojok tersembunyi di lingkungan sekolah SMA. Kondisi ini sesuai dengan sejumlah penelitian yang menyatakan bahwa perilaku merokok sering dimulai pada usia antara 11 sampai 15 tahun (Smet, 1994).
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa miskinnya pengetahuan atau tidak adanya keyakinan terhadap akibat-akibat merokok dapat menyulitkan individu untuk membangun suatu sikap atau akan memiliki sikap yang cenderung lemah terhadap rokok (Crhistanto, 2004). Selanjutnya,  Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan (knowledge) memegang pengaruh yang besar di dalam perilaku seseorang dan apabila pernyataan ini dikaitkan dengan perilaku merokok, maka pengetahuan seseorang tentang rokok akan menentukan seseorang untuk menjadi perokok atau tidak. Akan tetapi, pada pada kenyataannya pengaruh iklan tentang rokok sering menimbulkan pengetahuan yang salah tentang rokok. Pembentukan pengetahuan tentang rokok dapat terbentuk dari adanya penginderaan terhadap iklan-iklan rokok yang banyak tertampang di semua tempat mulai dari tempat umum yang bebentuk baliho sampai ke dalam rumah melalui iklan yang ditayangkan di televisi yang biasanya cenderung membentuk pengetahuan yang salah tentang rokok karena jargon iklan rokok sering dirancang sesuai dengan karakteristik remaja yang menginginkan kebebasan, independensi, dan pemberontakan pada norma-norma (Wullur, 2008). Pengetahuan yang salah tentang rokok ini selanjutnya akan mendorong terbentuknya sikap yang salah tentang rokok dan pada akhirnya terjadi proses aplikasi dimana seseorang akan menjadi perokok.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Pattinasarany (2004) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan  antara sikap terhadap merokok dengan perilaku merokok remaja. Jika dilihat dari perspektif budaya, terdapat adanya budaya lokal yang dapat menimbulkan sikap yang salah tentang rokok. Sebagai contoh. Pada budaya Jawa didapatkan bahwa pada saat tarnsisi ke usia dewasa , biasanya pada saat anak dikhitan, dinyatakan dengan orang tua memberikan rokok pada anaknya.
Dalam upaya menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan perilaku merokok di antara remaja di Kabupaten Blora, peneliti bermaksud melakukan penelitian di Sekolah Menengah Atas (SMA) I Blora agar dapat  dilakukan tindakan nyata terhadap faktor-faktor tersebut guna menurunkan kebiasaan merokok di kalangan remaja di Kabupaten Blora.
SMA I Blora dipilih sebagai tempat penelitian dengan alasan terdapat banyak siswa yang melakukan aktifitas merokok (Anonim:wawancara dengan salah satu siswa SMA I Blora, 2009), SMA I Blora mempunyai banyak fasilitas yang memungkinkan para siswa mendapatkan sumber informasi yang cukup mengenai berbagai bidang ilmu khususnya tentang kesehatan baik melalui buku, majalah, surat kabar, internet, maupun media lainnya dan SMA I Blora adalah SMA favorit yang menjadi barometer SMA lain di Kabupaten Blora.
B.     Perumusan Masalah
Maka berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan : “Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku merokok diantara remaja SMA Negeri I Blora?”
C.    Tujuan penelitian
1   Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok diantara remaja SMA Negeri I Blora.


2.   Tujuan Khusus
a.    Mendiskripsikan  karakteristik yang meliputi : umur, dan  pengaruh iklan rokok.
b.    Mengetahui   praktik  merokok diantara remaja SMA I Blora.
c.    Mengetahui tingkat  pengetahuan tentang rokok remaja di SMA I Blora.
d.    Mengetahui   sikap remaja  remaja di SMA I Blora  tentang rokok.
e.    Mengetahui  peranan anggota keluarga dalam perilaku merokok diantara remaja SMA I Blora.
f.     Mengetahui  peranan teman dalam perilaku merokok diantara remaja SMA I Blora
g.    Mengetahui  kertersediaan informasi tentang bahaya merokok diantara remaja SMA I Blora
h.    Mengetahui hubungan antara karakteristik yang meliputi : umur dan iklan rokok dengan praktik merokok pada remaja SMA I Blora.
i.      Mengetahui hubungan  antara pengetahuan dengan  praktik merokok pada remaja SMA I Blora.
j.      Mengetahui hubungan  antara sikap  terhadap rokok dengan praktik  merokok pada remaja SMA I Blora.
k.    Mengetahui hubungan  antara pengaruh anggota keluarga dengan praktik  merokok pada remaja SMA I Blora
l.      Mengetahui hubungan  antara pengaruh teman dengan praktik  merokok pada remaja SMA I Blora
m.   Menganalisis faktor  yang paling dominan pengaruhnya terhadap praktik merokok pada remaja SMA I Blora.


D.   Manfaat Penelitian
a.    Ilmu Keperawatan
Sebagai bahan masukan dan pengembangan bagi perawat untuk menjalankan fungsinya sebagai advocator khususnya pada bidang pencegahan munculnya penyakit yang dapat ditimbulkan oleh rokok.
b.    Bagi Poltekkes Depkes Semarang
Sebagai sarana pelaksanaan fungsi perguruan tinggi di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat.
c.    Bagi Masyarakat
Meningkatkan kesadaran masyarakat di dalam melakukan tindakan pencegahan atau pengontrolan kebiasaan merokok.
d.    Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan, memperluas wawasan dan pengalaman penelitian dalam bidang penelitian.
E.    Ruang Lingup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri I Blora, Kabupaten Blora


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Dalam tinjauan pustaka ini, peneliti akan menjelaskan tentang landasan teori, kerangka konsep dan hipotesis yang muncul dalam penelitian ini.

A.    Landasan Teori

      Dalam landasan teori ini, peneliti akan menjelaskan tentang pengertian remaja, rokok, pengetahuan, sikap dan perilaku.
1.    Remaja
a.Batasan Remaja
            Sarwono (1991) menyatakan bahwa remaja adalah suatu masa di mana individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
            Monks, Knoers, & Hadinoto  2001 (2001), remaja adalah individu yang berumur antara 12-21 tahun, dengan pembagian usia 12-15 tahun sebagai masa remaja awal, usia 15-18 tahun sebagai masa remaja pertengahan, 18-21 tahun sebagai masa remaja akhir.
b.    Perubahan pada Masa Remaja
           Nelson (2000) menyatakan bahwa pada masa remaja terjadi perubahan secara fisik, psikologis, maupun sosial sebagai berikut:
1)    Perubahan fisiologis
Perubahan fisik yang dialami anak perempuan adalah adanya pembesaran payudara dan akibat mulai berproduksinya FSH (Folicle Stimulating Hormone) dan estrogen maka terjadi pembesaran uterus dan klitoris, penebalan endometrium dan mukosa vagina, serta labia mayora menjadi lebih vaskular dan sensitif. Pada remaja awal sudah mulai terjadi menarche pada anak perempuan
Sedangkan pada anak laki-laki, terjadi pembesara testes dan mulai terjadi mimpi basah. Dibawah pengaruh hormon luteinisasi dan testosterone, tubulus seminiferus, epididimis, vesika seminalis, dan prostat membesar. Secara umum, anak perempuan lebih cepat dewasa terjadi bila dibandingkan dengan anak laki-laki.
2)    Perubahan psikologis dan sosial
Ketertarikan remaja pada seks meningkat pada masa pubertas awal. Secara kognitif, remaja mulai mampu mempertimbangkan berbagai sudut pandang dan sudah memiliki pemikiran operasional formal yaitu, kemampuan mengatasi berbagai kemungkinan sebagai suatu kesatuan yang nyata (Nelson, 2000).
Percepatan perkembangan pada remaja yang berhubungan dengan pemasakan seksualitas juga mengakibatkan perubahan dalam perkembangan sosialnya (Monks dkk., 2001). Dalam usaha mencapai identitas dirinya, seorang remaja sering membantah orang tuanya karena ia mulai mempunyai pendapat-pendapat sendiri, cita-cita, serta nilai-nilai yang berbeda dengan orang tuanya. Menurutnya orang tua tidak lagi dijadikan pegangan, padahal untuk berdiri sendiri ia belum cukup kuat. Hal ini menyebabkan remaja mudah terjerumus ke dalam perkumpulan remaja yang anggota-anggotanya adalah teman-teman sebaya yang mempunyai persoalan yang sama, dan dalam perkumpulan itu mereka bisa saling memberi dan mendapat dukungan mental (Purwanto, 1999). Menurut Keniston dan Beacke cit Monks dkk. (2000), sering timbul sifat-sifat khusus bahkan kebudayaan sendiri pada kelompok remaja.
c.    Perilaku Berisiko pada Remaja
Purwanto (1999), mengemukakan bahwa masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa seringkali menghadapkan individu yang bersangkutan kepada situasi yang membingungkan. Di satu pihak ia masih kanak-kanak, di pihak lain ia dituntut bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi-situasi yang menimbulkan konflik seperti ini menyebabkan perilaku-perilaku yang aneh, canggung, dan jika tidak terkontrol bisa menjadi kenakalan.
Perilaku-perilaku mengandung risiko sering dijumpai pada remaja. Diantaranya adalah penggunaan alkohol, tembakau dan zat lainnya, serta tindakan-tindakan menentang bahaya seperti kebut-kebutan, selancar udara, layang gantung, dan lain-lain. Alasan-alasan untuk malakukan perilaku-perilaku berisiko bermacam-macam dan berhubungan dengan dinamika fobia-balik (counterphobic dynamics), rasa takut dianggap tidak cakap, untuk menegaskan identitas maskulin, dan dinamika kelompok teman sebaya (Kaplan & Sadock, 2001).
2.    Rokok dan Merokok
a. Rokok
        Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 81 Tahun 1999, rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus, termasuk cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar dengan atau bahan tambahan.
Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia. Sekali satu batang rokok dibakar maka ia akan mengeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hydrogen sianida, ammonia, acrolein, acetilen, benzaldehyde, urethane, benzene, methanol, coumarine, etilkatehol-4, ortokresol, perilen, dan lain-lain (Aditama, 1992).
Nikotin, tar, dan karbonmonoksida merupakan komponen penting yang terkandung dalam sebatang rokok. Nikotin bersifat toksis terhadap jaringan syaraf, juga menyebabkan tekanan darah sistolik dan diastolik mengalami peningkatan, denyut jantung bertambah, aliran darah pada pembuluh darah koroner bertambah dan vasokontriksi pada pembuluh darah perifer (Sitepoe, 2000). Menurut Ichsanti (1994) adanya alkaloid pada nikotin akan menimbulkan rasa ketagihan pada perokok, tapi nikotin baru dapat menimbulkan rasa ketagihan pada kadar 5 mgr (4-6 mgr) perhari dari rokok yang dihisap. Tar sebagai getah tembakau merupakan zat berwarna coklat berisi berbagai jenis hidrokarbon aromatik polisiklik, amin aromatik dan N-nitrosamin. Sumber tar adalah tembakau, cengkeh, pembalut rokok, dan bahan organik lain yang habis dibakar.
Karbon monoksida (CO) menimbulkan desaturasi hemoglobin, menurunkan langsung persediaan oksigen untuk jaringan seluruh tubuh termasuk miokard. CO menggantikan posisi oksigen di hemoglobin, mengganggu pelepasan oksigen, dan mempercepat aterosklerosis. Dengan demikian, CO menurunkan kapasitas latihan fisik, meningkatkan viskositas darah, sehingga mempermudah penggumpalan darah (Tandra, 2003).
Komponen kimia yang terdapat dalam sebatang rokok.
Kandungan bahan-bahan kimia yang ada di dalam rokok
b. Tipe-tipe Perokok
Menurut Mu’tadin (2002), yang disebut perokok sangat berat adalah mereka yang mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang per hari dan selang merokok dengan selang waktu 5 menit setelah bangun pagi. Perokok berat menghabiskan 21-30 batang rokok per hari dan selang waktu merokoknya 6-30 menit sejak bangun pagi. Perokok sedang merokok 11-21 batang tiap hari dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi, sedangkan perokok ringan menghabiskan sekitar 10 batang rokok dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.
Klasifikasi tipe perokok yang lain dikemukakan oleh Silvans Tomkins cit Mu’tadin (2002) yang membagi perokok berdasarkan Management of affect theory, yaitu:
1). Perokok yang dipengaruhi perasaan positif
Dengan merokok, seseorang akan mendapatkan penambahan rasa yang positif. Tipe ini dikelempokkan lagi menjadi tiga subtype:
a). Pleasure relaxation.
Bagi perokok jenis ini, merokok bertujuan untuk menambah kenikmatan yang sudah diperoleh, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
b). Stimulation to pick them up.
Orang-orang yang termasuk ssdalam tipe ini merokok sekedar untuk menyenangkan perasaan saja.
c). Pleasure of handling cigarette.
Yang termasuk tipe ini adalah mereka yang memperoleh kenikmatan merokok dengan memegang rokok, khususnya pada perokok pipa. Selain itu, yang tergolong dalam tipe ini adalah mereka yang senang berlama-lama memainkan rokok dengan jari-jarinya sebelum dinyalakan.
2). Perokok yang dipengaruhi perasaan negatif
Pada tipe ini, rokok digunakan untuk mengurangi perasaan negatif seperti marah dan cemas.


3). Perokok yang adiktif
Perokok tipe ini sudah adiksi nikotin, sehingga akan terus menambah dosis rokok setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.
4). Perokok yang mengkonsumsi rokok karena kebiasaan
Perokok tipe ini menggunakan rokok karena benar-benar sudah menjadi kebiasaan rutin. Merokok sudah menjadi perilaku yang bersifat otomatis bahkan tanpa difikirkan dan tanpa disadari.
c. Proses Merokok
Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian diisap asapnya, baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Temperatur pada sebatang rokok yang tengah dibakar adalah 900 derajat celcius untuk ujung rokok yang dibakar dan 30 derajat celcius untuk ujung rokok yang terselip di antara bibir perokok (Harrison, 2000). 
Setelah rokok dibakar, sebanyak 25% nikotin masuk kedalam sirkulasi darah kemudian sampai ke otak dalam waktu 15 detik. Nikotin diterima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan kenikmatan, memacu sistem dopominergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara pada jalur adrenergik, nikotin akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan serotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan rasa tenang, sekaligus keinginan mencari rokok lagi (Waney, 2002).
Asap rokok terdiri atas fase partikulat (unsur padat) dan fase gas. Fase partikulat tersusun atas tar, hidrokarbon aromatik polinukleus, nikotin, fenol, kresol, B-naftilamin, N-nitrosonornikotin, benzopiren, trace metal, indol, karbazol, dan katekol. Sedangkan fase gas terdiri atas karbonmonoksida, asam hidrosianida, akrolein, ammonia, formaldehid, nitrogen oksida, nitrosamine, hidrazin, dan vinil klorida.
d. Faktor yang Mempengaruhi Seseorang Merokok
1). Pengaruh orang tua
Remaja berasal dari keluarga yang tidak bahagia lebih mudah untuk menjadi perokok dibandingkan dengan remaja yang berasal dari lingkungan keluarga yang bahagia. Perilaku merokok remaja lebih banyak ditemukan pada remaja yang tinggal dengan orang tua tunggal. Remaja juga cenderung akan merokok jika orang tua mereka merokok (Mu’tadin, 2002).
2). Pengaruh teman
Remaja yang teman-temannya merokok, maka kemungkinan ia akan menjadi perokok juga. Bahkan menurut Jacken (2002), merokok dalam pergaulan remaja sering dimanfaatkan sebagai syarat mutlak menjadi anggota genk
3). Faktor kepribadian
Remaja mencoba untuk merokok dengan alasan ingin tahu, ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik dan jiwa (Mu’tadin, 2002). Dari berbagai penelitian, remaja merokok dengan alasan coba-coba, ingin rmembebaskan diri dari stress, kebosanan, kegelisahan, agar kelihatan jantan, gengsi, mencari inspirasi, dan lain-lain (Santosa, 1993).
4). Pengaruh iklan
 Remaja sering terpancing untuk merokok setelah melihat iklan di media cetak atau elektronik yang menggambarkan bahwa merokok adalah lambang kejantanan atau glamour (Mu’tadin, 2002).
e.                 Bahaya merokok bagi kesehatan
           Efek merokok yang langsung dirasakan oleh perokok adalah meningkatnya denyut jantung, berbaunya nafas, berbaunya pakaian, menurunnya tingkat kesehatan dan kinerja, serta berkurangnya daya kecap dan penciuman. Sedangkan efek yang bersifat jangka panjang dari merokok adalah timbulnya noda pada gigi, jerawat dan masalah-masalah kulit lainnya, serta penyakit-penyakit yang bisa muncul diberbagai sistem tubuh.
           Di bawah ini adalah beberapa penyakit yang dapat disebabkan atau diperburuk oleh rokok:
1). Penyakit saluran pernafasan
Sekitar 56-80% dari semua penyakit pernafasan kronik disebabkan oleh rokok, termasuk bronchitis kronis dan emfisema. Penggunaan rokok di Indonesia diperkirakan menyebabkan 4,4% kematian karena penyakit paru kronik, pneumonia, bronchitis, dan emfisema (Tim Penanggulangan Masalah Tembakau, 2004).
2). Penyakit kardiovaskuler
Rokok merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner. Merokok dapat menyebabkan aterosklerosis koronaria dan iskemia akut, trombosi dan aritmia jantung (Harrison, 2000). Rokok bertanggung jawab terhadap terjadinya 22% penyakit jantung dan pembuluh darah (WHO, 2002).
3). Kanker
Merokok menyebabkan terjadinya 90% kanker paru pada laki-laki dan 70% pada wanita dengan tingkat kematian lebih dari 85% (IARC cit Tim Penanggulangan Masalah Tembakau, 2004). Merokok juga terbukti menyebabkab kanker mulut dan tenggorokan, kanker ginjal dan kandung kemih, kanker pancreas, kanker perut, kanker hati, kanker leher rahim, leukemia, kanker payudara (Jacken, 2002).
4). Gangguan kehamilan dan janin
Merokok dapat menghambat proses pembuahan, dan merokok selama kehamilan dapat menyebabkan ibu hamil berisiko mengalami proses kahamilan bermasalah, termasuk bayi berat lahir rendah, abortus spontan, lahir mati, dan lahir cepat (Harrison, 2000).
5). Gangguan seksual
Wanita perokok dapat mengalami penurunan  atau penundaan kemampuan kehamilan. Sedangkan pada pria, merokok dapat meningkatkan risiko impotensi sebesar 50% (Tim Penanggulangan Masalah Tembakau, 2004).
6). Gangguan saluran gastrointestinal
Pada perokok sering dijumpai penyakit tukak (ulkus), lambung serta duodenal dan dapat mengakibatkan kematian (Harrison,2000).
7). Penurunan daya ingat
Dari hasil analisis otak yang dilakukan oleh peneliti dari Neuropsychiatric Institite at the University of California, ditemukan bahwa jumlah tingkat dan kepadatan sel yang digunakan untuk berfikir jauh lebih rendah pada orang yang merokok dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Keadaan ini mempunyai implikasi penurunan daya ingat (Utama, 2005).
8). Depresi
Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok dapat meningkatkan gangguan depresif bagi individu yang menderitanya (Harrison, 2000).
Rokok dapat menurunkan tingkat harapan hidup seseorang. Umur orang yang merokok 1-2 bungkus sehari akan berkurang 8,3  tahun dari bukan perokok dengan umur yang sama (Djunaedi, 2002). Di samping itu, konsumsi rokok mengakibatkan satu kematian setiap sepuluh detik (WHO, 2002).
f.      Penanggulangan Perilaku Merokok pada Remaja
Perilaku merokok, terutama pada remaja, perlu diwaspadai dan dikendalikan karena merokok dapat mengantarkan perokok kepada perilaku berbahaya yang lebih lanjut, yaitu penggunaan narkoba (Adiningsih, 2001). Hal ini disebabkan orang-orang yang merokok mempunyai risiko yang lebih besar untuk mencoba zat adiktif lain yang lebih keras.
Sendi utama penanggulangan masalah merokok adalah penyuluhan terus menerus dan berkesinambungan tentang bahaya rokok, dan usaha mengubah perilaku masyarakat. Berdasarkan pengalaman beberapa negara, program ini berhasil jika ditangani oleh suatu badan nasional yang mengorganisasikan dan mengkoordinasikan semua kegiatan penanggulangan masalah rokok (Djunaedi, 2002). Menurut Aditama (1996), program ini perlu melibatkan berbagai pihak terkait, mulai dari kalangan kesehatan, alim ulama, remaja, teknokrat, politisi, ahli ekonomi, ahli lingkungan hidup, dan lain-lain.
Pada tahun 1980, Richard Evans berhasil menjalankan suatu program kampanye antirokok pada remaja. Kampanye antirokok ini dilakukan melalui poster, film, dan diskusi tentang berbagai aspek yang berhubungan dengan merokok. Lahan yang digunakan untuk kampaye ini adalah sekolah, radio, dan televisi.
g.    Pengetahuan tentang Bahaya Merokok
Berbagai informasi mengenai rokok dan bahaya mengenai kesehatan dapat diperoleh melalui guru, orang tua, tenaga kesehatan, buku-buku kesehatan, media elektronik, media cetak, teman, dan lain-lain.
Dengan adanya berbagai penyuluhan, ceramah, pertemuan ilmiah, wawancara di TV/radio dan lain-lain, maka masyarakat diharapkan mengetahui akibat merokok atau bahaya merokok, namun demikian masih banyak yang mempunyai kebiasaan merokok karena berbagai alas an, antara lain untuk sarana pergaulan, untuk menghilangkan ketengangan, karena meniru idolanya juga merokok dan lain-lain (Santoso, 1993).
Aspek-aspek pengetahuan tentang merokok meliputi keuntungan dan kerugian merokok, zat-zat beracun yang terkandung dalam rokok, penyakit-penyakit yang berhubungan dengan penggunaan rokok, akibat negatif asap rokok, akibat merokok dalam masyarakat, alasan merokok, dampak negatif merokok di sekolah dan di rumah, perokok pasif, dan bahaya orang tua merokok.
h.    Sikap terhadap Merokok
Sikap terhadap merokok adalah bagaimana pandangan individu tersebut terhadap  merokok akan memberikan gambaran bagaimana kecenderungan individu dalam  memberikan suatu respon yang berhubungan dengan aktivitas merokok. Dengan demikian bila remaja mempunyai respon positif atau negatif, suka atau tidak suka dapat mencerminkan pendapat atau keyakinan terhadap aktivitas  merokok.
Sikap positif seseorang terhadap kesehatan kemungkinan tidak otomatis berdampak pada perilaku seseorang menjadi positif, tetapi sikap yang negatif terhadap kesehatan hampir pasti dapat berdampak negatif pada perilakunya (Niven, 2002).
Sikap negatif mengenai merokok masih dapat berubah bila individu mendapatkan masukan-masukan, pengalaman, atau perilaku lingkungan positif yang tidak mendukung perilaku merokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar